spot_img
17.6 C
London
spot_img
HomeKesehatanPelecehan Seksual Digital: Kekerasannya Nyata di Kasus FH UI

Pelecehan Seksual Digital: Kekerasannya Nyata di Kasus FH UI

Kekerasan seksual verbal harus dianggap serius dan bukan sebagai bahan candaan. Pelaku sering kali mencoba untuk memberikan alasan dengan menggunakan kalimat seperti hanya bercanda atau jangan terlalu sensitif. Namun, sebenarnya kalimat-kalimat tersebut dapat menjadi bentuk untuk menyembunyikan kekerasan yang sesungguhnya sedang terjadi.
Dalam segi psikologis, hal ini adalah contoh dari moral disengagement yang merupakan cara seseorang melepaskan diri dari tanggung jawab moralnya. Sebuah candaan tidak lagi dianggap sebagai candaan ketika ada yang menjadi korban dari candaan tersebut.
Orang yang mengalami pelecehan verbal, fisik, seksual, atau digital akan mengalami luka psikologis yang serius. Luka psikologis ini tidak hanya ditentukan oleh tindakan itu sendiri, tetapi juga dari makna pengalaman yang dirasakan oleh korban. Pelecehan verbal atau digital bisa memberikan dampak yang sangat besar karena korban merasa direndahkan, dipermalukan, dan kehilangan rasa aman.
Efek emosional dari pelecehan tersebut bisa sangat berat, terutama jika percakapan tersebut menyebar luas ke banyak orang. Meskipun tidak ada luka fisik yang terlihat, namun luka pada harga diri, rasa aman, dan citra diri bisa sangat dalam.
Dari segi psikologis, yang terluka adalah harga diri, rasa aman, kepercayaan sosial, dan citra tubuh seseorang. Menurut Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor, korban bisa terus mengulang percakapan tersebut dalam pikirannya yang bisa berdampak pada PTSD dan seluruh aspek kehidupannya di masa depan.

Source link

TERBARU

JELAJAHI