Anemia defisiensi besi telah menjadi masalah yang persisten di Indonesia sejak zaman kolonial hingga saat ini. Meskipun upaya penanggulangannya terus dilakukan, prevalensi kondisi ini tetap tinggi, terutama di kalangan ibu hamil. Angka anemia yang melampaui standar kesehatan global menunjukkan perlunya perhatian serius terhadap masalah ini.
Melalui diskusi dengan media, Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menegaskan bahwa anemia defisiensi besi bukan sekadar masalah individual, melainkan isu kesehatan masyarakat yang berdampak luas. Sejarah kesehatan komunitas di Indonesia mencatat anemia sebagai salah satu penyakit yang menyebabkan tingginya angka kesakitan di masa lalu.
Dampak anemia defisiensi besi tidak hanya terbatas pada kelelahan atau penurunan kadar hemoglobin, tetapi juga berdampak pada performa akademik, kesehatan mental, dan daya tahan tubuh pada anak-anak dan remaja. Anak-anak yang mengidap anemia cenderung lebih rentan terhadap kecemasan dan gangguan emosional. Oleh karena itu, penanggulangan anemia defisiensi besi perlu terus diperkuat untuk menjaga kesehatan generasi masa depan.

