Pada tanggal 3 Maret, dunia memperingati Hari Pendengaran Sedunia dengan tema ‘from communities to classrooms: hearing care for every children’. Memperingati momen ini, kita diajak untuk lebih memahami tantangan yang dihadapi dalam masalah pendengaran, terutama pada anak-anak. Data menunjukkan bahwa sekitar 0,1 hingga 0,2 persen bayi baru lahir mengalami gangguan pendengaran, sedangkan 2,6 persen orang di atas 7 tahun juga mengalami masalah serupa.
Menurut Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dokter Siti Nadia Tarmizi, pentingnya pendengaran dalam perkembangan anak sangat besar. Kemampuan bahasa, belajar, dan interaksi sosial dipengaruhi oleh pendengaran, yang pada akhirnya bisa berdampak pada produktivitas saat dewasa. Gangguan pendengaran pada anak tidak hanya memengaruhi fungsi pendengaran saja, tetapi juga aspek-aspek lain dalam tumbuh kembangnya.
Ketidakmampuan mendengar dengan baik dapat mengganggu kemampuan belajar anak sejak dini, sehingga pendengaran memiliki peran penting dalam proses belajar anak. Dengan memahami betapa pentingnya perawatan pendengaran, kita dapat memberikan dukungan yang lebih baik untuk memastikan setiap anak mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.

