spot_img
2.6 C
London
spot_img
HomeKesehatanTips Menahan Lapar Saat Puasa Ramadan dan Mengatasi Emosi di Media Sosial

Tips Menahan Lapar Saat Puasa Ramadan dan Mengatasi Emosi di Media Sosial

Puasa Ramadan mengajarkan kita untuk menahan lapar, haus, dan hawa nafsu sejak fajar hingga matahari terbenam. Banyak orang mampu menjalani puasa secara fisik dengan disiplin, namun ironisnya, emosi di media sosial sulit dikendalikan. Komentar tajam, reaksi spontan, dan perdebatan panas sering terjadi selama bulan Ramadan. Mengapa menahan lapar terasa lebih mudah daripada menahan emosi di dunia digital?

Hal ini tidak terjadi begitu saja. Data Digital 2025 Global Overview Report menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan banyak waktu di internet setiap hari, terpapar berbagai informasi, opini, dan konten tanpa henti. Paparan digital yang intensif dapat menyebabkan otak mengalami overstimulasi, memperpendek rentang perhatian, dan menimbulkan kelelahan mental.

Setiap hari, kita harus membuat banyak keputusan kecil yang memicu kelelahan mental. Paparan digital memperbanyak keputusan mikro yang berujung pada decision fatigue. Saat energi mental menurun, kontrol diri juga melemah, membuat keputusan didasari emosi dan impulsivitas. Selama bulan Ramadan, perubahan pola makan dan tidur dapat memengaruhi stabilitas emosi dan energi, sehingga reaksi terhadap komentar negatif di media sosial dapat lebih intens.

Platform digital didesain untuk merangsang respons cepat dengan video pendek, notifikasi mencolok, serta sistem like dan komentar instan yang memberikan sensasi penghargaan secara instan. Otak terbiasa dengan kepuasan cepat, memilih respons tercepat dan termudah saat energi sedang rendah, seringkali berbasis emosi. Dalam konteks puasa Ramadan, penting untuk tidak hanya menahan lapar tetapi juga menahan reaksi impulsif.

Menurut Psikolog Klinis Rika Ermasari, penting bagi kita untuk mengembangkan keseimbangan antara pikiran rasional dan emosi sebelum bertindak, seperti yang diajarkan dalam Dialectical Behavior Therapy (DBT). Menantangnya, reaksi seringkali muncul sebelum pikiran rasional sempat bertindak. Tantangan terbesar masyarakat digital saat ini bukanlah ketidakmampuan membedakan mana yang benar, melainkan terlalu cepat bereaksi sebelum pikiran rasional dapat berfungsi dengan baik.

Source link

TERBARU

JELAJAHI