Menurut ahli kesehatan, respon “fight or flight” yang aktif ketika seseorang mengalami stres dapat membuat otot-otot tertentu di tubuh menegang, terutama pada bagian leher, bahu, punggung, dan rahang. Hal ini bertujuan untuk mempersiapkan tubuh dalam menghadapi tekanan eksternal. Apabila stres berlangsung terus-menerus dan menjadi kronis, kekakuan otot, nyeri, dan kejang dapat terjadi sebagai hasil dari ketegangan otot tersebut.
Selain itu, stres juga dapat berdampak pada postur tubuh seseorang, mengakibatkan ketidakseimbangan dan ketegangan otot. Stres kronis juga dapat memperburuk persepsi individu terhadap nyeri pada area tertentu di tubuh. Fenomena ini diungkapkan oleh ahli kesehatan sebagai dampak negatif dari stres yang berkepanjangan.
Dalam konteks kesehatan usus, stres juga dapat menjadi salah satu pemicu timbulnya gejala seperti diare dan perut kembung. Hal ini terjadi karena adanya komunikasi dua arah antara usus dan otak, dikenal sebagai sumbu usus-otak. Apabila tingkat stres meningkat, perubahan pada usus dapat terjadi dan menyebabkan masalah seperti kembung, diare, sembelit, atau sakit perut. Dengan demikian, penting bagi individu untuk mengelola stres dengan baik guna mencegah potensi dampak negatifnya terhadap kesehatan tubuh secara keseluruhan.


