spot_img
17.6 C
London
spot_img
HomeLainnyaGenerasi Muda Perlu Bangun Ketahanan Ideologi Sejak Dini

Generasi Muda Perlu Bangun Ketahanan Ideologi Sejak Dini

Isu mengenai kemungkinan pecahnya perang dunia kian sering mengemuka, baik melalui pemberitaan di media digital maupun percakapan masyarakat. Kekhawatiran ini pun menjadi dasar diselenggarakannya IR Youth Talks#1 yang dihelat oleh AIHII Chapter Jabodetabek di Auditorium Suwantji Sisworahardjo, FISIP Universitas Indonesia pada 21 April 2026 yang lalu. Gagasan utama acara ini adalah membedah bagaimana posisi Indonesia di tengah arus perubahan geopolitik global.

Diskusi terbuka yang berlangsung di forum ini dimulai oleh Anggy Pasaribu, seorang jurnalis dan juga pendiri “Story of Anggy”, yang menantang para peserta memikirkan kembali kecemasan publik atas kemungkinan perang dunia. Pertanyaan Anggy menyoroti apakah kekhawatiran tersebut benar-benar didasari oleh fakta yang kuat atau hanya sebatas kekhawatiran yang berkembang di masyarakat. Alih-alih memfokuskan pembicaraan pada jawaban mutlak, Anggy justru mendorong audiens untuk memandang masalah global dari sudut pandang yang komprehensif dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan.

Merespons kegelisahan tersebut, Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso dari Lemhannas RI berpesan agar anak muda tidak mudah hanyut oleh spekulasi mengenai pecahnya perang dunia. Ia berpendapat Indonesia harus lebih siap mengantisipasi berbagai kemungkinan krisis di kancah global, ketimbang menghabiskan energi sekadar menebak skenario perang dunia di masa depan. Menurut Aloysius, ketahanan nasional perlu diuji, bukan hanya lewat ramalan, tetapi lewat kesiapan mengelola segala bentuk krisis.

Lemhannas, jelas Aloysius, berupaya memetakan ancaman dengan menggunakan berbagai pendekatan ilmiah, seperti net assessment, penyusunan skenario, hingga pengukuran kerentanan dalam negeri. Hasilnya menunjukkan beberapa titik rawan di Indonesia, seperti ketergantungan terhadap impor energi dan pangan, serta posisi strategis di pusat persaingan kekuatan besar dunia di Indo-Pasifik. Setiap kisruh geopolitik dunia berisiko memicu fluktuasi di sektor vital Indonesia, dari lonjakan harga, instabilitas ekonomi, hingga ancaman pada keamanan rakyat.

Aloysius juga mengingatkan bahwa fondasi ideologi bangsa yaitu Pancasila adalah penyangga utama di tengah gelombang tantangan luar. Bagi Aloysius, Indonesia tidak akan mudah terombang-ambing asal nilai-nilai ideologi dijaga dengan sungguh-sungguh. Inilah faktor X yang membedakan kekuatan bangsa di tengah krisis yang melanda.

Sementara itu, Broto Wardoyo dari Universitas Indonesia menambahkan, memahami dinamika global memerlukan cara berpikir konseptual, bukan sekadar reaktif. Ia mengajak peserta menelaah bahwa berbagai konflik dan ketegangan global saat ini lebih tepat dimaknai sebagai fase transisi sistem internasional ketimbang tanda menuju perang dunia. Krisis-krisis yang muncul, kata Broto, adalah rangkaian peristiwa global saling berkaitan dan sulit untuk diprediksi ke mana arahnya.

Broto mengulas lebih jauh keterlibatan sejumlah aktor seperti Donald Trump yang menurutnya mempercepat ketidakpastian dengan kebijakan yang inkonsisten, yang memperkeruh sistem global. Ia kemudian mengenalkan strategi resilience-based hedging, yakni langkah yang menggabungkan kelincahan diplomasi luar negeri dan penguatan daya tahan dalam negeri. Pendekatan ini diyakini dapat membuat Indonesia lebih siap menghadapi dinamika internasional yang penuh gejolak.

IR Youth Talks menjadi ajang yang mempertemukan mahasiswa lintas universitas, akademisi, dan pembuat kebijakan dalam dialog yang terbuka dan inklusif. Forum ini didukung oleh enam universitas anggota AIHII Jabodetabek, memastikan wawasan hubungan internasional semakin mudah dijangkau generasi muda. Menurut Jeanne Francoise dari President University, tujuan forum ini adalah membumikan isu global agar dapat dipahami dan didiskusikan oleh mahasiswa, bukan hanya segelintir elite kampus atau pengamat.

Diskusi yang berlangsung menggarisbawahi betapa pentingnya generasi muda memahami isu dunia karena mereka adalah kelompok yang kelak langsung merasakan dampaknya. Menjelang penutupan diskusi, Anggy mengingatkan agar ruang dialog tetap sehat dan bermanfaat. Ia menyebut kritik tetap diperlukan, namun dilakukan dengan cara yang bermartabat dan di tempat yang pantas.

Keterlibatan anak muda, menurut Anggy, dapat dimulai melalui pemahaman mendalam dan penyampaian pendapat yang konstruktif, tak harus lewat sikap ekstrem. Pada akhirnya, dunia memang menghadapi ketidakpastian, namun langkah terbaik bukan mencemaskan tanpa arah, melainkan membekali diri dengan pengetahuan dan kesiapan nyata, sehingga apapun yang terjadi di masa depan, Indonesia tetap tangguh menatap tantangan.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko

TERBARU

JELAJAHI