Hipertensi paru, sebuah kondisi yang sering kali dianggap sebagai gejala kelelahan biasa, sebenarnya bisa menjadi sinyal bahaya yang harus diwaspadai. Gejala seperti sesak napas, jantung berdebar, pusing, atau mudah lelah sering kali diabaikan, padahal hal tersebut bisa menjadi tanda awal tekanan tinggi pada arteri paru yang berpotensi merusak jantung kanan.
Pasien seringkali menganggap gejala tersebut hanya sebagai rasa capek atau bahkan asma, namun pada kenyataannya pembuluh darah paru sudah mulai menyempit dan jantung kanan berkerja keras untuk mengatasi kondisi tersebut. Banyak pasien baru menyadari bahwa mereka menderita hipertensi paru setelah 2-4 tahun karena gejalanya yang samar, sehingga ketika terdiagnosis, kondisi pasien sering sudah berada pada stadium lanjut.
Risiko terkena hipertensi paru ternyata lebih tinggi pada perempuan. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan dua kali lebih mungkin terkena hipertensi paru idiopatik atau yang terkait dengan faktor autoimun. Hormon, genetik, dan imunitas dipercaya berperan dalam risiko terkena penyakit ini, meskipun mekanismenya masih terus menjadi bahan kajian.
Lebih lanjut, kondisi ini juga rentan terjadi pada ibu hamil dan ibu baru melahirkan. Hal ini dikaitkan dengan perubahan fisiologis tubuh ibu setelah melahirkan, terutama peningkatan kecenderungan darah untuk menggumpal. Tingkat kegumpalan darah yang meningkat pasca persalinan bisa mengakibatkan gumpalan darah menyumbat pembuluh darah paru, sehingga memicu terjadinya hipertensi paru.



