Fenomena terkait Gen Z yang semakin bergantung pada kecerdasan buatan (AI) untuk curhat menarik perhatian Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia. Dr. Retno Kumolohadi S.Psi., M.Si., seorang psikolog yang baru saja terpilih kembali sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat IPK Indonesia periode 2025 hingga 2029, menekankan bahwa meskipun AI dapat menjadi alat bantu, peran psikolog klinis tetap tidak tergantikan.
Menurut Retno, meskipun banyak dari Gen Z pertama kali mencari pertolongan pada ChatGPT, mereka akhirnya tetap mencari bantuan dari psikolog klinis karena merasa AI tidak mampu memahami serta mengatasi masalah emosional mereka secara mendalam. Hal ini menjadi semakin nyata di ruang praktik psikolog klinis, di mana semakin banyak kasus Gen Z yang datang setelah merasa bahwa AI tidak dapat memberikan solusi yang memadai.
Dalam Kongres V Ikatan Psikolog Klinis Indonesia yang berlangsung pada 21 hingga 23 November 2025 di Jakarta, Retno juga menyoroti situasi darurat kesehatan mental di Indonesia. Tingginya kasus depresi, kecemasan, skizofrenia, dan bahkan bunuh diri menjadi alarm penting bagi negara. Retno menegaskan bahwa prevalensi masalah kesehatan mental di Indonesia sangat tinggi sehingga memerlukan penanganan yang lebih serius.
Dengan begitu, IPK Indonesia mendorong akses yang lebih luas terhadap layanan psikolog klinis dari Sabang hingga Merauke, untuk memberikan bantuan dan dukungan yang diperlukan bagi Gen Z dan masyarakat secara umum.



