Alzheimer Indonesia dan Alzheimer’s Disease International meluncurkan kampanye kesadaran global selama Bulan Alzheimer Sedunia. Kampanye ini bertujuan untuk menjangkau 80% masyarakat umum dan 65% tenaga kesehatan untuk menyadarkan bahwa Demensia Alzheimer bukanlah bagian normal dari penuaan. Menurut World’s Alz Report 2025, rehabilitasi merupakan komponen utama dari perawatan demensia.
Dalam rangka Bulan Alzheimer Sedunia, Alzheimer Indonesia (ALZI) telah melaksanakan lebih dari 70 kegiatan di berbagai kota di Indonesia dan luar negeri sejak awal bulan September 2025. Acara diskusi dengan tema “Demensia – Setelah Diagnosa Lalu Apa?” mengundang berbagai narasumber terkemuka termasuk Orang Dengan Demensia (ODD), rektor universitas, neurologis, dan lainnya. Diskusi ini turut dihadiri oleh ODD, caregivers, terapis musik, dan mitra ALZI lainnya.
Alzheimer’s Disease International juga meluncurkan World’s Alzheimer Report 2025 yang menekankan pentingnya program rehabilitasi kognitif dalam perawatan pendampingan ODD. Survei ADI menunjukkan bahwa masih banyak orang dan tenaga kesehatan yang salah menganggap bahwa demensia adalah bagian alami dari penuaan. Kesalahpahaman ini, bersama dengan stigma dan ketidakpedulian, menghambat diagnosis dan akses terhadap perawatan.
ALZI mendorong masyarakat untuk menggunakan tagar #KenaliDemensia dan #KenaliAlzheimer sebagai bagian dari gerakan kesadaran global di Indonesia. Pentingnya pencegahan demensia melalui program-program kesehatan juga ditekankan, dimana diagnosis yang tepat waktu dan perawatan paska-diagnosa menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas hidup ODD dan caregivers.
Pesan utama dari ALZI dan ADI adalah untuk meruntuhkan kesalahpahaman dan stigma seputar demensia, serta mendorong masyarakat untuk lebih inklusif dan mendukung bagi mereka yang terkena demensia. dengan informasi yang akurat dan dukungan yang tepat, kita semua dapat terlibat dalam menciptakan lingkungan yang lebih suportif bagi ODD dan caregivers. Program-program rehabilitasi dan terapi seperti musik terapi juga dianggap penting dalam mendukung kualitas hidup ODD pasca-diagnosa.


