Candaan dalam interaksi sehari-hari, termasuk di media sosial, sering dianggap wajar. Namun, tidak semua candaan dapat diterima begitu saja, terutama jika mulai menimbulkan ketidaknyamanan. Menurut Psikolog klinis Phoebe Ramadina, ketidaknyamanan saat bercanda dapat menjadi indikasi awal dari pelecehan seksual, baik secara verbal maupun daring. Pelecehan tidak selalu hadir secara terang-terangan, sering kali terselubung di balik candaan atau pujian.
Perlu diingat bahwa rasa tidak nyaman yang dirasakan oleh korban adalah indikator penting dari pelecehan seksual, bahkan sebelum perilaku itu terlihat jelas sebagai pelecehan. Pelecehan seksual di media sosial cenderung muncul secara halus dan terselubung, seringkali dipahami sebagai candaan atau pujian. Saat korban mulai merasa tidak nyaman, perlaku seringkali merespons dengan meremehkan perasaan tersebut dengan mengatakan “hanya canda” atau “jangan terlalu sensitive”.
Menunjukkan ketidaknyamanan terhadap candaan yang berpotensi menjadi pelecehan adalah langkah penting dalam menjaga batasan-batasan diri. Mengidentifikasi bahwa rasa tidak nyaman sudah cukup sebagai alasan untuk menetapkan batasan tanpa menunggu situasi menjadi lebih buruk. Penting juga untuk menyadari bahwa kemampuan untuk menyuarakan kebutuhan dan batasan secara sehat adalah bagian dari keterampilan asertif yang penting. Menyampaikan secara langsung dan tegas bahwa komentar tersebut tidak nyaman dan meminta agar tidak diulangi seringkali lebih efektif dalam menghadapi situasi tersebut.

