Dalam era globalisasi, hubungan ekonomi antarnegara semakin erat sehingga menciptakan risiko baru yang tidak mudah dihindari. Ketegangan geopolitik yang terjadi di Ukraina dan Iran selama beberapa tahun terakhir membuktikan betapa rentannya jaringan global tersebut. Dampak dua konflik ini dengan jelas menunjukkan bahwa perang tidak hanya memberikan efek pada wilayah yang terlibat, tetapi juga menimbulkan konsekuensi ekonomi bagi dunia. Perang Ukraina, misalnya, menyebabkan terganggunya distribusi pangan dunia karena akses ke pelabuhan di Laut Hitam menjadi terbatas. Hal yang sama juga terjadi pada Perang Iran, di mana distribusi energi dunia terancam akibat ancaman terhadap pelayaran di Selat Hormuz. Kedua perang ini bukan hanya mengurangi jumlah produksi, tetapi juga mengacaukan kelancaran aliran distribusi berbagai komoditas penting. Serangan terhadap kapal, penempatan ranjau, hingga penerapan premi asuransi yang tinggi telah membuat banyak perusahaan pelayaran memilih menunda atau membatalkan perjalanan melalui jalur-jalur krusial tersebut.
Dalam kasus Selat Hormuz, misalnya, dampak gangguan bisa sangat signifikan. Ketika risiko meningkat, pasokan minyak yang biasanya mengalir sekitar 20 juta barel per hari dapat merosot tajam hingga hanya seperdelapannya. International Energy Agency bahkan menyebut gangguan pada periode mendatang sebagai yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Menariknya, Iran tidak perlu menutup selat secara penuh. Cukup dengan meningkatkan risiko dan ketidakpastian, pasokan energi dunia langsung terganggu dan harga melonjak. Hal serupa terjadi di Ukraina, di mana lebih dari 90 persen hasil ekspor pertanian negeri itu sebelumnya dikendalikan melalui pelabuhan Laut Hitam. Saat perang membuat jalur utama tersebut tak lagi aman, pengalihan ke jalur darat atau negara tetangga nyatanya hanya mampu menggantikan sebagian kecil distribusi sehingga stok pangan global pun berkurang. Negara-negara yang mengandalkan gandum dari Ukraina harus mencari alternatif di tengah kondisi pasar yang tidak menentu, sementara Rusia dan Belarus, dua pemasok utama pupuk dunia, menahan kiriman dengan dampak jangka panjang pada produksi pangan negara lain. Ini berarti, kerentanan pangan tidak sekedar ditentukan oleh jumlah produksi, melainkan juga kapasitas distribusi dan ketersediaan jalur alternatif.
Fakta lain yang perlu disoroti adalah bahwa ekspansi jaringan ekonomi dunia tidak otomatis menghilangkan simpul-simpul vital yang menjadi pusat konsentrasi risiko. Bahkan, ketika sebuah simpul tertentu seperti pelabuhan, selat, atau sistem pembayaran menampung aliran besar dan sulit digantikan, gangguan di simpul itu bisa menyebabkan efek domino ke berbagai sektor lain secara global. Dalam literatur ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai “chokepoint effect” atau efek titik cekik, di mana efisiensi dalam masa damai berubah menjadi kerentanan saat perang terjadi. Titik cekik ini tidak selalu identik dengan lokasi geografis seperti pelabuhan atau selat, sebab sektor keuangan, sistem komunikasi, pusat data, hingga distribusi semikonduktor juga rentan menjadi sasaran.
Beberapa tahun terakhir, penggunaan simpul vital sebagai alat tekanan ekonomi makin sering digunakan negara-negara yang berkonflik. Gangguan aliran barang kini dapat dilakukan dengan ranjau, rudal, sanksi ekonomi, pembatasan asuransi, atau pemutusan akses teknologi dan keuangan. Tindakan-tindakan tersebut bisa melumpuhkan aktivitas ekonomi suatu negara meskipun secara fisik tidak ada serangan langsung. Perubahan pola perang saat ini membuat seluruh negara, termasuk yang tidak terlibat konflik sekalipun, tetap dapat terkena imbasnya. Negara-negara yang sebelumnya merasa jauh dari medan perang kini harus memikirkan risiko dari suplai pangan, energi, dan input vital lain yang terhambat akibat konflik di tempat lain.
Indonesia berada dalam posisi yang rawan karena sebagai negara kepulauan, kelangsungan ekonomi dan keamanan nasional sangat tergantung pada jaringan logistik, pelabuhan, terminal energi, kabel bawah laut, dan sistem pembayaran yang semuanya tersambung ke jaringan global. Jika salah satu titik distribusi ini terganggu, baik akibat konflik langsung maupun tidak langsung, dampaknya bisa meluas pada seluruh negeri. Oleh karena itu, perencanaan pertahanan harus mengantisipasi bukan hanya serangan militer langsung, tetapi juga kemungkinan dampak tidak langsung berupa terhentinya fungsi-fungsi strategis. Indonesia harus mengidentifikasi mana simpul yang paling kritis dan sulit tergantikan, serta memastikan adanya jalur alternatif, cadangan, dan kapasitas pengganti yang memadai. Ketahanan nasional tidak hanya bergantung pada kemampuan swasembada, namun juga pada ketersediaan solusi apabila distribusi atau pasokan terputus dari luar.
Inti pelajaran dari konflik Ukraina dan Iran adalah, persiapan menghadapi ancaman modern menuntut penyesuaian dari kalkulasi sektoral menjadi kalkulasi fungsional. Negara perlu memahami fungsi vital apa saja yang harus terus berjalan, apa yang harus segera dipulihkan jika terjadi gangguan, dan berapa lama sistem dapat bertahan jika satu simpul gagal. Ketahanan sejati muncul jika semua pihak dari pemerintah, pelaku industri, hingga masyarakat sadar bahwa risiko tidak hanya datang dalam bentuk konvensional, tetapi juga dari putusnya rantai vital yang menopang kehidupan. Kini saatnya Indonesia berpikir jauh ke depan, bukan hanya menyiapkan kekuatan tempur, tetapi juga memperkuat integrasi dan daya tahan simpul-simpul penting bangsa. Seperti membuka akses pendidikan untuk anak-anak di pelosok, melindungi simpul vital bangsa adalah upaya bersama yang menentukan masa depan seluruh rakyat.
Sumber: Perang Terbatas, Dampak Global: Broto Wardoyo Soroti Ketahanan Pertahanan Indonesia
Sumber: Menakar Dampak Tak Terbatas Dari Perang Terbatas

