Ketika Alam Bicara: Kepemimpinan di Tengah Bencana
Pada Minggu pagi, 06 September 2026, abu tipis turun di teras rumah, bukan akibat hujan atau debu kendaraan, melainkan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau yang terletak lebih dari 130 kilometer jauhnya. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa manusia bukanlah pemilik tunggal bumi ini, melainkan tamu yang diberi mandat untuk menjaganya.
Ketika Jakarta Ikut Batuk
Gunung Anak Krakatau bukanlah hal baru, setelah statusnya ditingkatkan menjadi Siaga Level 3 sejak 02 Juli 2026. Namun, mitigasi yang komprehensif baru terjadi ketika abu vulkaniknya sampai ke Jakarta. Dampaknya begitu besar hingga Bandara Internasional Soekarno-Hatta terpaksa menutup operasionalnya sejak Minggu dini hari pukul 01.30 WIB dan terus diperpanjang hingga Senin, 7 September pukul 18.00 WIB.
Pada hari Senin tersebut, sebanyak 624 penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta terdampak, terdiri dari 461 domestik dan 156 internasional dengan perkiraan 75.236 penumpang. Garuda Indonesia bahkan mengumumkan bahwa tidak ada penerbangan dari Soetta pada hari tersebut. Hal ini memberikan pelajaran bahwa bencana seringkali baru dianggap sebagai “prioritas nasional” ketika dampaknya sudah dirasakan secara langsung, padahal mitigasi seharusnya dimulai sejak status Siaga diumumkan sebagai langkah awal kesiapsiagaan.
Tiga Wajah Kepemimpinan Saat Abu Vulkanik Turun
Krisis ini memperlihatkan tiga gaya komunikasi publik yang berbeda. Ada yang responsif dan berbasis data dengan menyediakan informasi penting dalam video singkat 30 detik, yang memberikan koordinasi dengan lembaga terkait terlebih dahulu untuk mendapatkan data secara lengkap, serta yang memilih untuk hadir secara langsung melalui komunikasi publik baik melalui siaran langsung maupun kunjungan lapangan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat.
Tiga Rekomendasi Kebijakan untuk Pemerintah
Standarisasi Komando Satu Data Bencana serta aktivasi mitigasi sejak status Siaga menjadi dua rekomendasi kebijakan yang penting untuk diterapkan. Selain itu, perkuat komunikasi krisis berbasis kebutuhan masyarakat juga menjadi hal esensial dalam upaya penanggulangan bencana seperti ini.
Di tengah ujian yang dihadapi, kita diingatkan bahwa ajining diri seseorang, terutama seorang pemimpin, tidak hanya dinilai dari seberapa sering ekspos diri di depan publik, tetapi lebih pada seberapa banyak masyarakat merasa aman dan terlindungi oleh keberadaannya.

