Pada awal tahun ini, sebuah perpustakaan desa di Jawa Timur mengungkapkan masalah besar terkait kiriman buku dari Perpustakaan Nasional. Biasanya kiriman buku tersebut datang setiap 3 bulan sekali, namun sejak awal 2026 belum ada kiriman sama sekali. Hal ini terjadi akibat efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah tahun ini.
Efisiensi Anggaran yang Salah Sasaran
Instruksi Presiden No 1 Tahun 2025 mengenai Efisiensi Belanja APBN dan APBD menyebabkan efisiensi anggaran dilakukan untuk menghemat dan membuat anggaran lebih produktif. Namun, program distribusi buku yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional terdampak akibat efisiensi tersebut, menyebabkan perpustakaan di berbagai daerah kehilangan akses terhadap buku.
Data dan Realitas Literasi
Badan Pusat Statistik mencatat angka Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Indonesia pada tahun 2024 berada di angka 62,27, menunjukkan bahwa kemampuan literasi masyarakat Indonesia masih pada level “sedang”. Situasi ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, terutama saat akses terhadap buku semakin sulit di berbagai daerah, terutama daerah 3T.
Filsafat Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
Salah satu tujuan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, namun hal ini sulit tercapai tanpa alat yang mendasar, yaitu buku. Akses terhadap buku menjadi kunci dalam pembangunan literasi masyarakat. Ki Hajar Dewantara dan Plato telah menegaskan pentingnya pendidikan dan buku sebagai fondasi bagi kemajuan suatu bangsa.
Tiga Jalan Keluar
Untuk mengatasi masalah ini, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memprioritaskan anggaran literasi dan tidak menghemat pada distribusi buku. Selain itu, melibatkan semua pihak seperti negara, swasta, kampus, dan komunitas literasi dalam program gotong royong dapat menjadi solusi. Selain itu, memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat kegiatan, diskusi, dan inovasi di desa juga menjadi langkah yang penting.
Alangkah baiknya jika kita semua sadar akan pentingnya akses terhadap buku dalam mencerdaskan bangsa. Menjadi bangsa yang besar bukan hanya dalam wacana, tetapi juga dalam tindakan nyata untuk memperkuat literasi masyarakat. Karena negara tanpa buku, adalah negara tanpa masa depan.
Source link
