spot_img
11.8 C
London
spot_img
HomeLainnyaYayasan Paseban Kembangkan Konservasi Berbasis Keberlanjutan

Yayasan Paseban Kembangkan Konservasi Berbasis Keberlanjutan

Upaya Menjaga Alam Lewat Kolaborasi: Lembah Aviary Paseban Jadi Simbol Konservasi Baru di Jawa Barat

Peresmian Lembah Aviary Paseban di kawasan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat oleh Kementerian Kehutanan menandai satu langkah penting dalam strategi konservasi di tanah air. Kawasan ini, yang juga menjadi lokasi penangkaran rusa timor, kini dirancang sebagai pusat pembelajaran sekaligus perlindungan keanekaragaman hayati dan pengembangan ekowisata yang ramah lingkungan.

Dalam acara tersebut, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Prof Setyawan Pudyatmoko, secara simbolis melepasliarkan dua individu elang jawa ke habitat alaminya. Aksi ini tidak hanya menjadi bagian dari pemulihan satwa dilindungi, tetapi juga mencerminkan pendekatan kolaboratif melalui sinergi antara perlindungan flora dan fauna, pendidikan masyarakat, serta pemberdayaan ekonomi lokal.

Konsep pengelolaan Lembah Aviary Paseban mengintegrasikan konservasi in-situ dan ex-situ di satu lanskap yang komprehensif. Prof Setyawan menjelaskan bahwa model ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain, karena mampu mendukung pemulihan fungsi-fungsi ekologis, membangun kembali habitat, hingga meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat sekitar dalam perlindungan kawasan. Kolaborasi lintas lembaga seperti Yayasan Paseban, BBKSDA Jawa Barat, Perum Perhutani, akademisi, dan komunitas setempat sangat diapresiasi sebagai kunci keberhasilan pelestarian alami Megamendung dan sekitarnya.

Yayasan Paseban sendiri telah lama berkomitmen terhadap upaya pemulihan lingkungan di Megamendung. Melalui pendekatan jangka panjang yang mengedepankan pelestarian biodiversitas dan edukasi lingkungan, mereka berupaya mengembalikan kawasan ini ke kondisi ekologis ideal sebagaimana tercatat sekitar seabad lalu. Menurut Andy Utama, Pembina Yayasan Paseban, walau tidak mungkin mengulang masa lalu sepenuhnya, sekurangnya fungsi-fungsi ekosistem dan sumber air tetap dijaga serta ditingkatkan demi generasi mendatang.

Wiratno, Penasihat Yayasan Paseban, menambahkan bahwa Megamendung lebih dari sekadar kawasan administratif; ia adalah bagian dari bentang biosfer yang terkoneksi dengan Cibodas. Keberadaan kawasan seperti ini makin esensial di tengah masifnya pembangunan dan perubahan tata ruang di Jawa Barat, khususnya sebagai penyeimbang ekologis dan penyuplai jasa lingkungan bagi wilayah hulu hingga hilir.

Pelepasliaran Elang Jawa menjadi simbol dari seluruh rangkaian konservasi. Dua individu, Agni (betina hasil rehabilitasi di PKEK Kamojang) dan Beta (jantan dari Yayasan Konservasi Cikananga), telah melalui proses observasi, adaptasi lingkungan, dan evaluasi kesehatan selama bertahun-tahun. Dengan pemasangan GPS Tracker, seluruh proses pemantauan setelah pelepasliaran dapat dilakukan secara akurat sehingga peluang adaptasi dan kelangsungan hidup mereka di alam semakin tinggi.

Kontribusi PKEK dan YCKT dalam rehabilitasi menjadi bagian penting dari pencapaian ini. Dengan upaya sistematis sejak penyelamatan hingga penguatan populasi sebelum kembali ke alam liar, kolaborasi multipihak memperbesar keberhasilan konservasi. Tak hanya elang jawa, Lembah Aviary Paseban juga tumbuh sebagai pusat konservasi ex-situ untuk berbagai jenis burung, lewat pengembangbiakan, riset, serta pendidikan kepada pengunjung dan masyarakat.

Selain penangkaran burung, pengembangan penangkaran rusa timor memperluas kontribusi Paseban dalam menjaga kelestarian satwa asli Nusantara. Menurut Kemenhut, keberhasilan pelestarian tidak hanya dipengaruhi oleh teknologi penangkaran dan rehabilitasi, melainkan keterlibatan masyarakat, akademisi, pemerintah daerah, hingga pelaku bisnis lokal sangatlah vital untuk menciptakan habitat yang aman dan lestari.

Lanskap Megamendung sendiri memiliki posisi strategis sebagai bagian dari Cagar Biosfer Cibodas yang telah diakui dunia sejak 1977. Fungsinya bukan sekadar zona inti konservasi, tetapi juga zona penyangga dan transisi yang menopang keseluruhan ekosistem. Kedekatannya dengan Jakarta dan kepadatan penduduk Jawa Barat memberi tantangan tersendiri, namun sekaligus mempertegas kebutuhan akan kebijakan pelestarian berbasis bentang alam yang utuh.

Kawasan Megamendung masih menjadi rumah bagi beragam satwa endemik dan dilindungi seperti elang jawa, surili, owa jawa, trenggiling, landak jawa, hingga lesang pohon dan burung langka lain. Kepadatan keanekaragaman hayati ini menjadi tolok ukur keberhasilan kawasan sebagai pengungsian alami di tengah ekspansi pembangunan.

Riset terbaru menunjukkan nilai ekonomi ekosistem Megamendung secara jangka panjang jauh lebih tinggi daripada keuntungan yang diperoleh dari alih fungsi lahan yang merusak ekologi. Berbagai inisiatif Yayasan Paseban, mulai dari pertanian organik, edukasi lingkungan bersama sekolah-sekolah dan komunitas, serta penanaman pohon dalam program berkelanjutan, terus menggugah masyarakat akan pentingnya menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan pelestarian alam.

Sejak 2024, lebih dari 21.800 bibit pohon dari 200 jenis telah ditanam, dipetakan, dan dipantau pertumbuhannya sebagai upaya meningkatkan daya dukung ekologis kawasan. Di sisi lain, Yayasan Paseban pun tengah mempersiapkan pengembangan kerja sama konservasi dengan Perum Perhutani di area tambahan seluas 100 hektare. Langkah ini diharapkan memperluas bentang lindung yang bermanfaat bagi seluruh kehidupan di Pulau Jawa.

Dengan fondasi kuat kolaborasi, edukasi, pemberdayaan ekonomi lokal, dan teknologi pemantauan satwa, Lembah Aviary Paseban menyerukan harapan bahwa pelestarian alam bukan sekadar tanggung jawab pemerintah, tetapi juga hasil kerja bersama untuk masa depan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya.

Sumber: Lembah Aviary Paseban Diresmikan Kemenhut, Megamendung Diperkuat Jadi Kawasan Konservasi Satwa
Sumber: Kemenhut Resmikan Lembah Aviary Paseban, Harapan Pelestrian Alam Di Masa Depan

TERBARU

JELAJAHI