Tragedi Dokter Myta Aprilia Azmy: Beban Kerja Berat hingga Kematian Mengerikan
Pada 1 Mei 2026, dunia kedokteran Indonesia dirundung duka dengan meninggalnya Dokter Myta Aprilia Azmy. Dr. Myta menghembuskan nafas terakhir setelah berjuang melawan kondisi kritis di ICU RS Muhammad Hoesin Palembang. Namun, apa yang sebenarnya terjadi di balik tragedi yang menimpa Dokter Myta ini?
Rekaman Pahit Internship Dokter Myta
Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (IKA FK Unsri) merilis investigasi internal yang mengejutkan. Berdasarkan temuan mereka, Dokter Myta terbebani dengan tugas-tugas tanpa henti selama menjalani internship di RSUD KH Daud Arif Kuala Tungkal, Jambi. Rekam jejaknya mencatat bahwa almarhumah bekerja tanpa jadwal libur selama tiga bulan penuh di bangsal/IGD tanpa adanya supervisi dokter definitif.
IKA FK Unsri menduga ada pelanggaran regulasi jam kerja yang menyebabkan beban kerja tidak manusiawi bagi dokter magang ini. Mereka menegaskan bahwa status dokter internship seharusnya berbeda dengan pekerja tetap rumah sakit, sesuai ketentuan Kemenkes yang berlaku.
Akhir Hidup yang Penuh Penderitaan
Kisah tragis Dokter Myta semakin memilukan ketika terungkap bahwa beliau melaporkan sakit pada bulan Maret 2026 namun tetap dipaksa menjalankan jadwal jaga malam. Bahkan dalam keadaan sesak napas berat dan demam tinggi, Dokter Myta harus tetap bekerja tanpa ampun.
Fakta lain yang mengemuka adalah saturasi oksigen Dokter Myta yang turun drastis hingga 80 persen sebelum akhirnya mendapatkan penanganan medis yang layak. Bak puncak gunung es, dugaan malapraktik administratif dan intimidasi juga mencuat dalam tragedi ini.
Para dokter internship di RS tersebut dituduh mendapat narasi gaslighting yang menghancurkan mentalitas mereka. Ketika mengutarakan hak-hak dasar kesehatan, mereka dicap sebagai ‘generasi Z lembek’ yang tidak kuat menanggung beban kerja berat.

