spot_img
13.6 C
London
spot_img
HomeLainnyaWahdi Azmi: Ekosistem dan Manusia Saling Terhubung

Wahdi Azmi: Ekosistem dan Manusia Saling Terhubung

Biasanya, psikis masyarakat sering hanya menjadi bayang-bayang dalam perbincangan seputar konservasi. Topik yang diangkat umumnya berkisar pada isu-isu kehilangan hutan, penyusutan habitat satwa liar, atau seringnya terjadi konflik antara manusia dan satwa. Namun, banyak pihak terlanjur berpikir konservasi adalah persoalan menjaga ekosistem yang jauh dari keterlibatan komunitas sekitar.

Wahdi Azmi, seorang dokter hewan dan pelaku konservasi dengan pengalaman panjang di bidang penanganan konflik manusia-gajah di Sumatera, memandang akar masalah konservasi justru tersembunyi pada keterlibatan manusia. Dalam forum Leaders Talk Tourism, ketika membahas Surat Edaran Ditjen KSDAE Nomor 6 Tahun 2025, Wahdi dengan tegas menekankan bahwa tanpa membuat konservasi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, maka segala upaya pelestarian lingkungan akan selalu tertinggal oleh kebutuhan ekonomi penduduk sekitar.

Pendekatan tradisional sering bertumpu pada pelindungan kawasan, pembatasan aktivitas berbasis regulasi, dan pengawasan yang ketat. Namun pendekatan proteksionis seperti ini ternyata kerap menimbulkan jarak sosial, membuat konservasi dipandang sebagai beban ketimbang kesempatan. Masyarakat kehilangan akses terhadap lahan dan sumber penghidupan, sehingga kehadiran satwa maupun kawasan konservasi dipersepsi sebagai lawan, bukan mitra.

Padahal, dalam praktik di lapangan, akar konflik bukan murni soal perilaku satwa, melainkan perubahan tata guna lahan yang mengganggu keseimbangan sosial-ekonomi komunitas lokal. Ketika lahan hutan dikonversi menjadi perkebunan dan permukiman, baik satwa maupun manusia terdorong untuk memperebutkan ruang hidup yang semakin sempit. Di titik inilah, pendekatan integrasi yang diperjuangkan Wahdi justru menemukan relevansinya.

Misalnya, di kawasan Mega Mendung, strategi manajemen lingkungan mulai beralih ke model yang mengaitkan konservasi dengan ekonomi dan sosial masyarakat. Kawasan Arista Montana yang dikembangkan bersama Yayasan Paseban dan dipimpin oleh Andy Utama menyatukan pertanian organik berbasis komunitas dengan pelestarian ekosistem sekitarnya. Petani tidak hanya diajak menjadi pengguna lahan, tetapi juga pemangku kepentingan alam yang aktif dan mendapatkan pelatihan tentang teknik pertanian lestari demi menjaga air serta tanah.

Model semacam ini mengubah relasi masyarakat dengan lingkungan. Bukan lagi bertumpu pada larangan, namun menekankan pentingnya kapasitas komunitas dalam merancang dan mengelola sistem yang lestari. Keberhasilan konservasi di sini tidak berdiri di atas pengawasan eksternal semata, tetapi tumbuh bersama peningkatan kesejahteraan petani dan pembelajaran lintas generasi yang diberikan melalui program Yayasan Paseban. Anak muda diperkenalkan pada pentingnya menjaga lingkungan, sekaligus mendapat bekal keterampilan ekonomi berbasis sumber daya alam secara lestari. Edukasi diposisikan bukan hanya sebagai transfer pengetahuan, tetapi sebagai alat pengembangan keahlian praktis dalam mengelola sumber alam.

Melalui keterlibatan aktif, pelan namun pasti konservasi melahirkan pola baru: masyarakat bukan hanya objek penerima kebijakan, melainkan pelaksana utama pengelolaan lingkungan.

Apa yang terjadi di Mega Mendung menggemakan pelajaran dari Sumatera: tanpa integrasi, konservasi hanya akan menjadi proyek yang dijalankan setengah hati. Konflik manusia-satwa di Sumatera lahir dari tumpang tindih kebutuhan ruang tanpa rancangan sosial dan ekonomi yang matang. Sebaliknya, di Mega Mendung penyatuan aktivitas masyarakat dengan usaha konservasi justru menekan angka konflik dan memperkuat keterikatan masyarakat pada pelestarian.

Jika melihat ke tingkat lokal, penyebab utama kegagalan konservasi sering terletak pada minimnya pelibatan masyarakat dan kurangnya penguatan kapasitas. Program yang absen dari aspek pemberdayaan cenderung mandek ketika tidak lagi didampingi pihak luar. Namun, bila komunitas dilengkapi keterampilan ekonomi berbasis konservasi, maka praktik pelestarian pun menjadi kebutuhan mendasar sekaligus peluang baru.

Dari kombinasi pemikiran Wahdi Azmi dan contoh nyata di Mega Mendung, terang bahwa kunci konservasi terletak pada penerapan integrasi dari level individu, komunitas hingga kebijakan. Indonesia membutuhkan model konservasi yang bukan hanya melindungi kawasan, melainkan merangkai kepentingan ekologi dan sosial ekonomi dalam satu ekosistem pengelolaan. Konservasi harus ditempatkan sebagai pilar kesejahteraan, bukan penghalang aktivitas.

Sekalipun tantangan pembangunan nasional terus meningkat, model adaptif yang mempertemukan pelestarian alam dengan peluang kehidupan masyarakat justru semakin penting. Di masa depan, jawaban atas keberlanjutan lingkungan bergantung pada seberapa besar kita dapat menautkan kepentingan manusia dengan keutuhan alam. Seperti disampaikan Wahdi, akhirnya keberlanjutan alam akan terus diuji selama manusia belum menemukan alasan kuat untuk mengawalinya secara bersama.

Sumber: Wahdi Azmi Sebut Konservasi Harus Memberi Manfaat Bagi Masyarakat
Sumber: Dari Gajah Ke Mega Mendung, Ketika Konservasi Harus Menghidupi

TERBARU

JELAJAHI