Kanker paru-paru telah lama dikaitkan dengan kebiasaan merokok, namun sebenarnya penyebabnya jauh lebih kompleks. Selain dari merokok, faktor lain seperti paparan polusi udara, usia, dan faktor genetik juga dapat memicu penyakit ini. Menurut Konsultan Senior Ahli Onkologi Medis Parkway Cancer Center, Tanuja Rajasekaran, kanker paru tidak mengenal batasan perokok atau bukan perokok.
Dalam diskusi media mengenai ‘Pergeseran Demografi Kanker di Indonesia: Kanker Paru pada Usia Produktif’, Tanuja menjelaskan bahwa kanker paru terjadi karena pertumbuhan sel yang tidak terkendali akibat mutasi pada sel normal. Mutasi ini dapat menumpuk dan berkembang menjadi keganasan, bahkan dapat menyebar ke organ lain. Oleh karena itu, pemahaman akan berbagai faktor risiko kanker paru sangat penting untuk meningkatkan kewaspadaan.
Salah satu faktor risiko yang tidak bisa diabaikan adalah paparan polusi udara, terutama bagi masyarakat perkotaan. Partikel halus dari asap kendaraan, pembakaran sampah, dan emisi industri dapat menyebabkan iritasi dan peradangan kronis pada saluran pernapasan, yang berpotensi memicu perubahan pada struktur sel paru. Selain itu, faktor usia juga berperan penting dalam peningkatan risiko kanker paru, karena dengan bertambahnya usia, sistem imun tubuh cenderung menurun.
Ada juga sebagian kasus kanker paru yang dipicu oleh mutasi gen tertentu, baik secara spontan maupun dipengaruhi oleh lingkungan. Saat ini, pemeriksaan profil molekuler sangat membantu dalam mengidentifikasi mutasi genetik spesifik yang mendasari kanker, sehingga terapi yang lebih tepat dapat ditentukan sesuai dengan karakteristik tumor pasien. Penyebab kanker paru bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi antara faktor lingkungan, paparan zat berbahaya, kondisi tubuh, dan kerentanan genetik. Maka, penting untuk selalu waspada meskipun merasa sehat atau tidak merokok.

