Campak terus menjadi masalah kesehatan yang signifikan di Indonesia, seperti yang dilaporkan dalam berita terbaru tentang wabah campak yang terjadi di Australia Barat. Menurut data yang dikutip dari WHO, Indonesia menempati peringkat kedua dalam daftar negara dengan kasus wabah campak tertinggi di dunia. Hal ini mengkhawatirkan dan menunjukkan bahwa masalah campak perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat.
Data terbaru mencatat bahwa cakupan imunisasi rutin lengkap di Indonesia mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun sebelumnya mencapai 92% pada tahun 2018, namun turun menjadi hanya 87,8% pada tahun 2023. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan kasus campak di tanah air. Selain itu, cakupan imunisasi campak-rubela (MR) juga masih jauh dari target yang diinginkan, yaitu 95% untuk membentuk kekebalan kelompok.
Tren peningkatan kasus campak terjadi dari tahun ke tahun, seperti yang terjadi pada tahun 2022 dengan lebih dari 4.800 kasus yang meningkat menjadi lebih dari 10.600 kasus pada tahun 2023. Meskipun mengalami sedikit penurunan pada tahun 2024, namun kembali meningkat pada tahun 2025. Data juga mencatat adanya KLB campak di berbagai wilayah, menunjukkan bahwa pengendalian penyakit campak perlu menjadi prioritas utama dalam upaya kesehatan masyarakat.
Dengan demikian, peran penting dari imunisasi dalam pencegahan penyakit menular seperti campak tidak bisa diabaikan. Masyarakat perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya vaksinasi dan pemerintah harus terus melakukan upaya dalam meningkatkan cakupan imunisasi secara menyeluruh. Hanya dengan langkah-langkah preventif yang tepat, kita dapat bersama-sama mengatasi masalah campak dan meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

