Harga emas (XAU/USD) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Selasa (28/10) setelah bertahan di atas level psikologis $4.000. Penurunan ini dipicu oleh meredanya ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok, membuat emas kehilangan daya tariknya sebagai safe-haven asset. Pelaku pasar mulai mengalihkan investasi ke aset berisiko seperti saham dan obligasi, menyebabkan tekanan jual pada emas semakin kuat.
Dari segi teknikal, analisis dari Dupoin Futures Indonesia menunjukkan adanya pola candlestick dan pergerakan Moving Average yang mengindikasikan tren bearish pada XAU/USD. Pelaku pasar juga menantikan keputusan The Federal Reserve (The Fed) terkait potensi penurunan suku bunga, yang dapat berpengaruh besar terhadap arah pergerakan harga emas. Kabar baik datang dari Washington dan Beijing mengenai perjanjian dagang baru, mendorong investor untuk meninggalkan aset pelindung seperti emas.
Meskipun demikian, tidak semua indikator ekonomi berdampak negatif terhadap harga emas. Indeks Dolar AS (DXY) melemah tipis dan imbal hasil obligasi AS 10-tahun juga turun. Meski demikian, Andy menyarankan agar investor tetap berhati-hati karena volatilitas harga emas cenderung meningkat menjelang keputusan The Fed. Tekanan bearish masih dominan selama harga emas belum mampu konsisten di atas $4.000. Selain itu, pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping juga diharapkan dapat menciptakan stabilitas untuk perdagangan AS-Tiongkok dalam waktu mendatang.



