Teknologi telemedis yang didukung oleh kecerdasan buatan (AI) telah membuka pintu untuk layanan kesehatan yang dapat diakses dari mana saja. Dengan kemampuannya memproses data medis dalam jumlah besar, AI dapat membantu dalam proses diagnosis, terutama di area yang memiliki keterbatasan fasilitas kesehatan. Meskipun potensinya besar, para ahli mengingatkan bahwa AI seharusnya bukanlah satu-satunya faktor dalam pengambilan keputusan medis.
Menurut Nikolai, meskipun sistem AI, terutama yang berbasis percakapan, dapat memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan, namun belum tentu akurat. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan AI untuk memberikan jawaban yang terlalu optimis atau bahkan menyesatkan tanpa data yang cukup, yang dikenal sebagai fenomena hallucination. Meskipun AI dapat menjelaskan gejala, namun tetap penting untuk dilakukan pemeriksaan fisik seperti tes darah atau rontgen untuk diagnosis yang tepat.
Keputusan medis seharusnya tetap berada di tangan tenaga medis yang terlatih, dengan dukungan dari berbagai tes penunjang. Para ahli sepakat bahwa masa depan dunia medis akan ditentukan oleh seberapa baik manusia dan AI dapat bekerja sama. Kombinasi kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan, mempercepat penanganan penyakit, dan mengurangi kesenjangan akses di wilayah terpencil. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bahwa keduanya merupakan pilihan terbaik untuk mengoptimalkan pelayanan kesehatan di masa mendatang.

